Lampu kamar sudah diredupkan, tetapi pikiran masih ramai. Ada rasa gelisah yang sulit dijelaskan, atau mungkin si kecil terbangun menangis untuk kesekian kalinya. Di saat seperti itu, banyak dari kita teringat satu hal: membaca ayat-ayat Allah untuk memohon perlindungan.
Ayat ruqyah adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca untuk memohon kesembuhan dan perlindungan kepada Allah, sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Kabar baiknya, sebagian besar ayat itu sudah akrab di lisan kita: Al-Fatihah, Ayat Kursi, dan tiga surat terakhir Al-Qur’an. Di bawah ini kita urai satu per satu, lengkap dengan dalil dan cara membacanya.
Apa yang Membuat Sebuah Bacaan Disebut Ruqyah Syar’iyyah?
Ruqyah syar’iyyah memakai ayat Al-Qur’an, nama dan sifat Allah, serta doa yang diajarkan Nabi ﷺ. Bahasanya jelas maknanya, dan yang dibaca yakin bahwa kesembuhan datang dari Allah, bukan dari bacaannya itu sendiri.
‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu bercerita bahwa para sahabat dahulu biasa meruqyah, lalu bertanya kepada Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda, “Perlihatkanlah kepadaku ruqyah kalian. Tidak mengapa dengan ruqyah selama tidak mengandung syirik.” (HR. Muslim no. 2200)
Penjelasan yang lebih lengkap tentang syarat dan batasannya ada di artikel pengertian ruqyah syar’iyyah. Sekarang, mari kita lihat ayat-ayatnya.
Ayat Ruqyah yang Bersumber dari Sunnah
1. Surat Al-Fatihah
Al-Fatihah adalah ruqyah yang dibenarkan langsung oleh Nabi ﷺ. Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, sekelompok sahabat singgah di sebuah kampung yang kepala sukunya tersengat kalajengking. Salah seorang sahabat membacakan Al-Fatihah sambil meniupkannya, dan orang itu pun bangkit seolah terlepas dari ikatan. Ketika kisah ini disampaikan kepada Rasulullah ﷺ, beliau bertanya, “Dari mana engkau tahu bahwa ia adalah ruqyah?” (HR. Bukhari no. 5749 dan Muslim no. 2201)
Surat yang kita baca minimal tujuh belas kali sehari dalam shalat ternyata juga penyembuh. Bacalah dengan tartil dan penuh penghayatan, bukan sekadar cepat selesai.
2. Ayat Kursi (QS. Al-Baqarah: 255)
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
“Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup, Yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya. Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu pun dari ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi, dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah Yang Mahatinggi, Mahabesar.”
Dalam sebuah riwayat panjang dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, disebutkan bahwa siapa yang membaca Ayat Kursi ketika hendak tidur, ia senantiasa mendapat penjagaan dari Allah dan setan tidak akan mendekatinya hingga pagi. Rasulullah ﷺ membenarkan keterangan itu (HR. Bukhari no. 2311).
3. Dua Ayat Terakhir Surat Al-Baqarah (QS. Al-Baqarah: 285–286)
Abu Mas‘ud Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sabda Nabi ﷺ: “Siapa yang membaca dua ayat terakhir surat Al-Baqarah pada suatu malam, keduanya telah mencukupinya.” (HR. Bukhari no. 5009 dan Muslim no. 807)
Kedua ayat ini ditutup dengan doa yang sangat menyentuh: permohonan agar Allah tidak membebani kita di luar kemampuan, serta memohon ampunan, rahmat, dan pertolongan-Nya.
4. Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas (Al-Mu‘awwidzat)
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَٰهِ النَّاسِ مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
Tiga surat pendek ini adalah bacaan ruqyah yang paling sering diamalkan Rasulullah ﷺ untuk dirinya sendiri. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan bahwa apabila beliau sakit, beliau membaca al-mu‘awwidzat untuk dirinya lalu meniupkannya. Ketika sakit beliau semakin berat, ‘Aisyah yang membacakannya dan mengusapkan dengan tangan beliau karena mengharap keberkahannya (HR. Bukhari no. 5016 dan Muslim no. 2192).
Surat Al-Falaq sendiri berisi permohonan perlindungan dari kejahatan sihir (“para peniup pada buhul-buhul”) dan dari hasad. Inilah sebabnya surat ini juga dibaca ketika seseorang khawatir terkena penyakit ain.
Ayat yang Sering Dibaca Para Peruqyah
Selain ayat-ayat di atas, para peruqyah biasa membaca ayat yang kandungannya berkaitan dengan batalnya sihir, misalnya kisah Nabi Musa ‘alaihissalam menghadapi para penyihir Fir‘aun (QS. Al-A‘raf: 117–122, QS. Yunus: 81–82, dan QS. Thaha: 69), juga QS. Al-Baqarah: 102 yang menjelaskan hakikat sihir.
Perlu dipahami, pemilihan ayat-ayat ini didasarkan pada kandungan maknanya. Tidak ada keterangan bahwa Nabi ﷺ menetapkannya sebagai paket bacaan khusus. Membacanya tetap baik, karena seluruh Al-Qur’an adalah penyembuh: “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra’: 82)
Bila Anda curiga ada gangguan yang terasa tidak biasa, kenali dulu tanda-tandanya di artikel ciri-ciri terkena sihir, tanpa terburu-buru menyimpulkan.
Cara Membaca Ayat Ruqyah untuk Diri Sendiri dan Keluarga

- Berwudhu dan luruskan niat. Niatkan untuk memohon kesembuhan dan perlindungan hanya kepada Allah.
- Mulai dengan Al-Fatihah, lalu Ayat Kursi, dua ayat terakhir Al-Baqarah, dan ditutup dengan Al-Ikhlas, Al-Falaq, serta An-Nas.
- Tiupkan dengan sedikit percikan ludah ke telapak tangan, lalu usapkan ke bagian tubuh yang dirasa sakit atau ke seluruh tubuh, sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ.
- Ulangi dengan tenang. Banyak ulama membiasakan pengulangan tiga kali, tetapi yang terpenting adalah kekhusyukan, bukan hitungan.
- Tutup dengan doa dan serahkan hasilnya kepada Allah.
Untuk bacaan doa yang bisa dirutinkan bersama keluarga, lihat panduan ruqyah mandiri. Banyak pasien kami merasakan suasana rumah menjadi lebih tenang setelah membiasakan bacaan ini selepas Maghrib dan sebelum tidur.
Meluruskan Anggapan: Ayat Ruqyah yang Ditulis lalu Digantung
Ada kebiasaan menuliskan ayat, menyimpannya di dompet, atau menggantungnya di leher anak sebagai penangkal. Ada pula yang menganggap ruqyah hanya “ampuh” bila dibacakan orang tertentu.
Keduanya perlu diluruskan dengan lembut. Ruqyah yang dicontohkan Nabi ﷺ adalah dibaca, lalu ditiupkan atau diusapkan, bukan dijadikan benda yang digantungkan. Menggantungkan sesuatu sebagai penangkal dikhawatirkan menyerupai jimat yang dilarang. Ruqyah juga tidak bergantung pada siapa pembacanya. Anda sendiri boleh dan dianjurkan meruqyah diri dan keluarga. Peruqyah hanya membantu ketika seseorang membutuhkan pendampingan.
Kapan Perlu Didampingi Peruqyah?
Sebagian besar keperluan cukup dengan membaca sendiri secara rutin. Pendampingan biasanya dibutuhkan ketika gangguan terasa berulang dan membuat sulit beribadah, ketika ada reaksi yang membuat keluarga khawatir, atau ketika Anda ingin belajar bacaan yang benar secara langsung.
Di BRC, ruqyah dilakukan dengan bacaan Al-Qur’an dan doa ma’tsur, tanpa jimat atau benda apa pun. Untuk persiapannya, baca persiapan sebelum ruqyah dan reaksi yang mungkin muncul saat diruqyah. Informasi layanannya ada di halaman ruqyah Bandung.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa saja ayat ruqyah yang paling utama dibaca?
Ayat ruqyah yang paling utama adalah yang bersumber langsung dari sunnah: surat Al-Fatihah, Ayat Kursi, dua ayat terakhir surat Al-Baqarah, serta Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Keenam bacaan ini mudah dihafal dan bisa diamalkan setiap hari oleh seluruh anggota keluarga, termasuk anak-anak.
Bolehkah membaca ayat ruqyah untuk diri sendiri?
Boleh, bahkan dianjurkan. Rasulullah ﷺ sendiri membaca al-mu‘awwidzat untuk dirinya ketika sakit. Bacalah dengan wudhu, niat yang lurus, dan keyakinan bahwa kesembuhan dari Allah. Anda tidak harus menunggu orang lain untuk memulai ruqyah.
Bolehkah ayat ruqyah dibaca oleh wanita yang sedang haid?
Para ulama berbeda pendapat tentang wanita haid membaca Al-Qur’an. Pendapat yang lebih longgar membolehkannya terutama untuk keperluan seperti ruqyah dan dzikir, tanpa menyentuh mushaf secara langsung. Doa dan dzikir perlindungan tetap boleh dibaca kapan saja.
Berapa kali ayat ruqyah sebaiknya dibaca?
Tidak ada jumlah wajib untuk seluruh bacaan. Untuk al-mu‘awwidzat sebelum tidur, sunnahnya dibaca lalu ditiupkan dan diusapkan ke tubuh sebanyak tiga kali. Selebihnya, yang dianjurkan adalah rutin setiap hari, dengan khusyuk dan tenang.
Penutup
Ayat ruqyah tidak jauh dari kita. Ia ada di lisan sejak kecil: Al-Fatihah yang kita baca di setiap rakaat, Ayat Kursi yang dihafal di madrasah, dan tiga surat pendek yang diajarkan orang tua. Yang dibutuhkan hanyalah membacanya dengan sadar, yakin, dan rutin, sebagai bentuk berlindung kepada Allah.
Semoga Allah menjaga Anda dan keluarga dari segala keburukan, dan menjadikan setiap ayat yang dibaca sebagai penyejuk hati dan penyembuh.





