Sejarah dan hadis anjuran bekam memperlihatkan kedudukan hijamah dalam pengobatan thibbun nabawi: Rasulullah ﷺ menjalaninya, menyampaikan keutamaannya, dan memberi teladan dalam memperlakukan orang yang melakukan pembekaman. Ada pula riwayat tentang pesan para malaikat pada malam Isra agar beliau menganjurkan bekam kepada umatnya.
Bagi kami di BRC, mengenal landasan ini membantu seseorang datang dengan niat yang lebih terarah. Kita memilih bekam sebagai ikhtiar pengobatan, berusaha melaksanakannya dengan baik, dan menyerahkan hasilnya kepada Allah. Kecintaan kepada sunnah berjalan bersama pengetahuan, adab, serta perhatian pada keadaan tubuh.
Kisah anjuran bekam pada malam Isra
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي بِمَلَإٍ إِلَّا قَالُوا يَا مُحَمَّدُ مُرْ أُمَّتَكَ بِالْحِجَامَةِ
Terjemahan makna: “Pada malam ketika aku diperjalankan dalam Isra, setiap kali aku melewati suatu kumpulan, mereka berkata, ‘Wahai Muhammad, perintahkanlah umatmu untuk berbekam.’”
Riwayat ini terdapat dalam Sunan Ibnu Majah nomor 3479. Riwayat semakna juga terdapat dalam Jami‘ at-Tirmidzi nomor 2052, yang disebut hasan gharib oleh at-Tirmidzi. Al-Albani menilai riwayat anjuran tersebut sahih dalam Shahih al-Jami‘ nomor 5671. Penyebutan derajat ini mengikuti penilaian ulama yang disebutkan; penilaian terhadap jalur sanad tertentu dapat berbeda.
Keterangan tentang kumpulan para malaikat tampak jelas dalam redaksi riwayat at-Tirmidzi. Dari sinilah kita mengenal kisah yang sering disebut sebagai “perintah bekam saat Isra Mikraj”: pesan para malaikat kepada Rasulullah ﷺ agar beliau menganjurkannya kepada umat.
Kisah tersebut menunjukkan perhatian terhadap ikhtiar pengobatan. Kita cukup menyampaikan rincian yang terdapat dalam riwayat, tanpa menambahkan percakapan, nama malaikat tertentu, atau waktu pertama kali Rasulullah menjalani bekam yang tidak dijelaskan oleh hadis tersebut. Anjuran ini juga tidak menetapkan bahwa setiap Muslim wajib menjalani bekam pada jadwal yang sama.
Rasulullah ﷺ sendiri menjalani bekam
Sejarah bekam pada masa Nabi dapat dikenali melalui orang dan peristiwa yang disebutkan dalam hadis. Dalam riwayat Anas yang dicantumkan oleh al-Bukhari, Abu Thaybah membekam Rasulullah ﷺ. Beliau kemudian memberikan imbalan kepadanya.
Riwayat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menyampaikan praktik itu dengan kalimat yang singkat:
احْتَجَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَعْطَى الْحَجَّامَ أَجْرَهُ
Terjemahan makna: “Nabi ﷺ berbekam dan memberikan upah kepada orang yang membekamnya.”
HR. al-Bukhari nomor 2278, sahih. Baca riwayatnya.
Peristiwa ini memperlihatkan bahwa pada masa Rasulullah ﷺ telah ada orang yang memiliki pekerjaan membekam. Beliau menerima jasa tersebut dan menghargai pekerjaannya. Pelajaran bagi kita pun utuh: memilih ikhtiar yang dikenal dalam sunnah, menyerahkannya kepada orang yang memiliki keahlian, dan menunaikan hak orang yang melayani.
Hadis tentang keutamaan bekam sebagai pengobatan
Dalam riwayat Anas bin Malik, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أَمْثَلَ مَا تَدَاوَيْتُمْ بِهِ الْحِجَامَةُ وَالْقُسْطُ الْبَحْرِيُّ
Terjemahan makna: “Sesungguhnya di antara pengobatan terbaik yang kalian gunakan adalah bekam dan al-qusth al-bahri.”
Petikan HR. al-Bukhari nomor 5696, sahih. Baca hadis lengkapnya.
Al-qusth al-bahri merupakan bahan herbal yang turut disebut dalam riwayat tersebut. Adapun penyebutan hijamah memberi landasan yang jelas bagi kita untuk mengenal keutamaan bekam dalam pengobatan thibbun nabawi.
Ada pula riwayat Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma. Ketika menjenguk al-Muqanna‘ yang sedang sakit, Jabir mengingatkan tentang bekam karena ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ فِيهِ شِفَاءً
Terjemahan makna: “Sesungguhnya padanya terdapat kesembuhan.”
Petikan HR. al-Bukhari nomor 5697, sahih. Kata “padanya” dalam konteks riwayat ini merujuk kepada bekam. Baca konteks hadisnya.
Para sahabat mengingat tuntunan tersebut dan menyampaikannya kepada orang lain. Bagi orang yang ingin berbekam, hadis-hadis ini menjadi dorongan untuk berikhtiar dengan keyakinan kepada Allah. Hasil pada setiap orang tetap mengikuti kehendak-Nya, dengan memperhatikan kebutuhan dan pelaksanaan yang sesuai.
Mengapa kita meneladani Rasulullah dalam berbekam?
Allah menjelaskan kedudukan Rasulullah ﷺ sebagai teladan dalam Surah al-Ahzab ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Terjemahan makna: “Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” QS. al-Ahzab: 21.
Ayat ini menjadi landasan umum untuk meneladani beliau. Dalam urusan bekam, teladan itu terlihat pada kesediaan berikhtiar, penghargaan kepada orang yang memiliki keahlian, dan hati yang tetap bergantung kepada Allah.
Seseorang dapat berniat merawat tubuh sekaligus mengikuti tuntunan yang ia pelajari. Niat tersebut perlu dijaga dengan cara yang baik: bertanya ketika belum memahami prosesnya, menyampaikan keadaan tubuh dengan jujur, menjaga aurat, serta menghormati orang yang memberikan pelayanan.
Mengikuti sunnah dalam pengobatan juga mengajarkan ketenangan. Kita berusaha dengan sungguh-sungguh, memohon kebaikan kepada Allah, dan tidak menetapkan janji hasil yang sama untuk setiap orang. Bekam dijalani sebagai pilihan ikhtiar yang memiliki dasar dalam hadis, dengan kebutuhan masing-masing tetap diperhatikan.
Mengamalkan anjuran dengan persiapan yang baik
Jika setelah membaca hadis-hadis ini Anda ingin mulai berbekam, langkah awalnya sederhana: bicarakan kebutuhan dan kesiapan Anda dengan terapis. Sampaikan apakah ini kunjungan pertama, kapan terakhir menjalani bekam, serta kondisi tubuh yang perlu diperhatikan.
Pelaksanaan yang baik memperhatikan kebersihan alat, kompetensi terapis, kenyamanan, dan privasi. Untuk bekam basah yang melibatkan pengeluaran darah, riwayat anemia atau gangguan perdarahan perlu disampaikan sebelum sesi. Perhatian seperti ini merupakan bagian dari ikhtiar yang bertanggung jawab.
Di BRC, kami menyambut Anda yang ingin mengenal layanan bekam dan merencanakan kunjungan. Anda dapat melihat informasi BRC Cibaduyut atau BRC Margahayu, kemudian memilih cabang yang sesuai dengan lokasi dan waktu Anda.
Mari mengenal sunnahnya dan mempersiapkan ikhtiarnya dengan baik. Hubungi WhatsApp BRC Cibaduyut untuk konsultasi dan booking bekam. Kami siap membantu menjelaskan layanan serta waktu kunjungan agar Anda dapat datang dengan lebih tenang. Semoga Allah memberi kebaikan dalam setiap ikhtiar kita.





