Islami

Thibbun Nabawi: Pengertian, Dalil, dan Macam-Macamnya

Perlengkapan thibbun nabawi: cawan bekam, madu, habbatussauda, kurma, zaitun, dan siwak

Rasulullah ﷺ pernah berbekam ketika sedang berihram (HR. Bukhari). Bayangkan: di tengah ibadah haji, dalam pakaian ihram, beliau tetap menjaga amanah tubuhnya. Detail kecil ini sering terlewat, padahal di sinilah pelajarannya. Merawat badan bukan urusan dunia semata. Ia bagian dari ibadah.

Dari teladan seperti itulah lahir istilah thibbun nabawi, yaitu cara merawat dan mengobati tubuh sebagaimana diajarkan dan dipraktikkan Nabi ﷺ. Isinya meliputi ruqyah dengan Al-Qur’an, bekam, madu, habbatussauda, dan kebiasaan hidup sehari-hari. Semuanya dijalankan dengan satu keyakinan: kesembuhan datang dari Allah, sedangkan kita berikhtiar dengan cara yang paling dicintai-Nya.

Pengertian Thibbun Nabawi

Secara bahasa, ath-thibb berarti pengobatan, dan an-nabawi berarti yang dinisbatkan kepada Nabi. Jadi thibbun nabawi adalah pengobatan yang bersumber dari sabda, perbuatan, dan persetujuan Rasulullah ﷺ.

Para ulama sudah lama menghimpun bab ini. Ibnul Qayyim rahimahullah, misalnya, membahasnya panjang lebar dalam kitab Zadul Ma‘ad, dan bagian itu kemudian dikenal luas sebagai kitab Ath-Thibb An-Nabawi. Beliau menunjukkan bahwa tuntunan Nabi ﷺ mencakup penjagaan hati sekaligus badan.

Ada satu hal yang membuat thibbun nabawi berbeda dari sekadar resep. Ia selalu diawali niat ibadah dan diakhiri tawakal. Madu yang diminum dengan bismillah dan doa terasa lain maknanya dibanding madu yang diminum sambil lalu.

Dalil Thibbun Nabawi dalam Al-Qur’an dan Hadits

Keyakinan bahwa setiap penyakit ada obatnya bukan sekadar penghibur hati. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sabda Nabi ﷺ:

مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً

“Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan Dia turunkan pula penyembuhnya.” (HR. Bukhari no. 5678)

Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu menambahkan sisi yang sering dilupakan, yaitu ketepatan:

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat itu tepat mengenai penyakitnya, ia sembuh dengan izin Allah ‘azza wa jalla.” (HR. Muslim no. 2204)

Al-Qur’an sendiri disebut sebagai penyembuh:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra’: 82)

Tentang madu, Allah berfirman bahwa dari perut lebah keluar minuman yang beraneka warna, dan di dalamnya terdapat penyembuhan bagi manusia (QS. An-Nahl: 69).

Macam-Macam Thibbun Nabawi

Kalau dirangkum, macam-macam thibbun nabawi bisa dikelompokkan menjadi empat. Masing-masing punya pembahasan tersendiri di situs ini.

1. Ruqyah Syar’iyyah: Penyembuhan dengan Al-Qur’an dan Doa

Ruqyah adalah membacakan ayat Al-Qur’an dan doa-doa yang diajarkan Nabi ﷺ kepada orang yang sakit atau terganggu. Para sahabat dahulu biasa meruqyah, lalu Rasulullah ﷺ bersabda, “Perlihatkanlah kepadaku ruqyah kalian. Tidak mengapa dengan ruqyah selama tidak mengandung syirik.” (HR. Muslim no. 2200, dari ‘Auf bin Malik)

Syarat itulah yang menjadi garis tegas: tanpa jimat, rajah, atau mantra yang tidak jelas maknanya. Penjelasan lengkapnya ada di artikel pengertian ruqyah syar’iyyah, dan bacaan yang bisa diamalkan sendiri di rumah ada di panduan ruqyah mandiri. Bagi yang ingin didampingi langsung, BRC juga melayani ruqyah di Bandung.

2. Bekam (Hijamah)

Bekam adalah tindakan yang paling sering dikaitkan dengan thibbun nabawi. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sabda Nabi ﷺ: “Sesungguhnya sebaik-baik pengobatan yang kalian lakukan adalah bekam dan al-qust al-bahri.” (HR. Bukhari no. 5696 dan Muslim no. 1577)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma juga meriwayatkan bahwa kesembuhan ada pada tiga hal: minum madu, sayatan alat bekam, dan kay (pengobatan dengan besi panas), sementara Nabi ﷺ melarang umatnya melakukan kay (HR. Bukhari no. 5680). Ingin mengenal bekam lebih dalam? Mulailah dari artikel manfaat bekam, lalu titik bekam sunnah dan waktu bekam tanggal 17, 19, 21 Hijriah. Informasi layanannya ada di halaman bekam Bandung.

3. Madu dan Herbal Nabawi

Bagian ini yang paling dekat dengan dapur kita. Beberapa yang disebut dalam hadits:

  • Madu: disebut penyembuh dalam Al-Qur’an dan hadits di atas. Dalil dan adabnya dibahas lengkap di artikel madu dalam Islam.
  • Habbatussauda: Nabi ﷺ bersabda bahwa padanya terdapat kesembuhan dari segala penyakit kecuali as-sam, yaitu kematian (HR. Bukhari no. 5688 dan Muslim no. 2215).
  • Minyak zaitun: Nabi ﷺ memerintahkan untuk memakannya dan berminyak dengannya, karena ia berasal dari pohon yang diberkahi (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).
  • Kurma ajwa: siapa yang memakan tujuh butir kurma ajwa di pagi hari, tidak akan tertimpa racun dan sihir pada hari itu (HR. Bukhari dan Muslim).
  • Talbinah: bubur tepung gandum bercampur susu dan madu. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menyampaikan bahwa talbinah menenangkan hati orang yang sakit dan mengurangi sebagian kesedihan (HR. Bukhari).

Gunakan dalam takaran yang wajar. Satu hal yang perlu diingat: madu tidak diberikan kepada bayi di bawah usia satu tahun. Contoh penerapannya bisa Anda baca di artikel ikhtiar madu dan bekam untuk keluhan lambung.

4. Kebiasaan Hidup Sesuai Sunnah

Thibbun nabawi tidak selalu berupa sesuatu yang diminum atau dioleskan. Banyak bagiannya justru berupa kebiasaan. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidak ada wadah yang diisi anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya; jika memang harus, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk napas (HR. Tirmidzi no. 2380, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Tambahkan puasa Senin-Kamis, bersiwak, tidur lebih awal, dan jalan kaki ke masjid. Kelihatannya sederhana, tetapi justru kebiasaan inilah yang paling lama menemani kita.

Meluruskan Anggapan: Cukup Membeli Produk Berlabel “Sunnah”?

Hari ini, label “herbal sunnah” ada di mana-mana. Lalu muncul anggapan bahwa menjalankan thibbun nabawi cukup dengan membeli produk berlabel itu.

Anggapan ini perlu diluruskan dengan lembut. Hadits Jabir di atas menyebut kesembuhan datang ketika obatnya tepat mengenai penyakitnya, dan itu pun dengan izin Allah. Artinya, thibbun nabawi menuntut ilmu, ketepatan, dan adab: memahami dalilnya, memilih bahan yang jelas asal-usulnya, menakar dengan wajar, dan bertanya kepada praktisi yang berpengalaman. Label di kemasan tidak menggantikan semua itu.

Adab Menjalankan Thibbun Nabawi

Terapis BRC Cibaduyut menjelaskan thibbun nabawi kepada pasien saat konsultasi
Ilustrasi konsultasi di BRC
  1. Luruskan niat. Niatkan untuk mengikuti sunnah dan menjaga amanah tubuh agar kuat beribadah.
  2. Yakini bahwa kesembuhan dari Allah. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berkata, “Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.” (QS. Asy-Syu‘ara: 80)
  3. Belajar dari sumber yang jelas. Waspadai hadits yang tidak jelas asalnya, sekalipun banyak beredar.
  4. Pilih praktisi yang terpercaya. Untuk bekam dan ruqyah, pilih terapis yang berpengalaman, bersertifikat, dan menjaga adab serta aurat.
  5. Bersabar dan istiqamah. Ikhtiar yang kecil tapi rutin lebih baik daripada yang besar tapi sesekali.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu thibbun nabawi?

Thibbun nabawi adalah cara merawat dan mengobati tubuh yang bersumber dari sabda, perbuatan, dan persetujuan Rasulullah ﷺ. Isinya mencakup ruqyah dengan Al-Qur’an, bekam, madu, habbatussauda, zaitun, kurma, serta kebiasaan hidup sehari-hari, semuanya dijalankan dengan niat ibadah dan tawakal kepada Allah.

Apa saja contoh thibbun nabawi?

Contoh yang paling dikenal adalah ruqyah syar’iyyah, bekam (hijamah), minum madu, mengonsumsi habbatussauda, minyak zaitun, kurma ajwa, dan talbinah. Kebiasaan seperti makan secukupnya, puasa sunnah, dan bersiwak juga termasuk tuntunan Nabi ﷺ dalam menjaga tubuh.

Apakah thibbun nabawi boleh dilakukan sendiri di rumah?

Sebagian bisa, seperti membaca ruqyah mandiri, minum madu, dan menjaga pola makan sunnah. Untuk tindakan seperti bekam, sebaiknya dilakukan oleh terapis yang berpengalaman dan bersertifikat agar aman, bersih, dan sesuai adab, terutama bagi yang sedang hamil atau badannya sangat lemah.

Bagaimana memulai thibbun nabawi untuk keluarga?

Mulailah dari yang paling ringan: dzikir pagi dan petang, madu di pagi hari, dan makan secukupnya. Setelah itu, jadwalkan bekam rutin sesuai sunnah bersama terapis terpercaya. Ajak keluarga menjalankannya bersama agar terasa sebagai ibadah, bukan beban.

Penutup

Thibbun nabawi mengajak kita kembali pada cara Rasulullah ﷺ merawat diri: sederhana, penuh adab, dan selalu bersandar kepada Allah. Tidak perlu menunggu sakit untuk memulainya. Sesendok madu di pagi hari dan perut yang tidak terlalu penuh sudah menjadi langkah awal yang baik.

Semoga Allah menganugerahkan kesehatan kepada Anda dan keluarga, serta menjadikan setiap ikhtiar sebagai amal yang diterima.